Jadi inget waktu ke Qanatir bersama teman-teman Ngabarians...
Monday, June 14, 2010
Saturday, June 12, 2010
Hadiah dari PPWS
Tak ketinggalan, konsulat-konsulat dari berbagai daerah pun mengutus jago-jagonya untuk mengikuti kompetisi yang diselenggarakan. Tidak hanya itu, Mudabbir/Mudabbrioah pun ikut menyiapkan a'do-nya dalam mengikuti perlombaan, walaupun terkadang jago yang ditampilkan mudabbir hujroh 'satu spesies' (orang yang sama) dengan jago yang ditampilkan oleh pengurus konsulat. Kalah dan menang tentu menjadi realitas perlombaan, walaupun pada akhirnya para santri merasakan hal yang sama. Kepuasan.
Puas karena jam belajar formal diliburkan sementara, digantikan dengan kegiatan-kegiatan yang bersifat ekstrakulikuler. Namun demikian, PPWS tidak membiarkan santri-santrinya beraktifitas secara serampangan tanpa tujuan. Sebagai contoh, di Tarbiyatul Muallimin, santri putra yang mengikuti lomba olah raga haruslah berpakaian kaos dan celana training yang rapi, kaos yang beraneka gambar pun dilarang dipakai, ini membuktikan bahwa berpakaian pun mengandung nilai pembelajaran di luar pembelajaran sekolah.
Fenomena ultah PPWS di atas hanyalah sebagian kecil dari proses pendidikan di Pesantren Ngabar ini. Ada hal lain yang lebih bermakna dari itu semua, mungkin kita dapat menyebutnya dengan hidden kurikulum. Sadar atau tidak, hidden kurikulumlah yang menjadi proses pendidikan santri putra dan putri agar transformasi ideologi dapat searah dengan kurukulum Pesantren (Sekolah). Sebagai contoh misalnya, di ruang sekolah tahun pertama, sebutlah pelajaran Mafudzot; Man Sobaro Dzofiro dan Man Jadda Wajada. Apakah kedua kata yang didapat dari bangku sekolah itu dapat melekat begitu saja di benak santri? jawaban sederhananya, tidak. Karena di Muallimin bukan hanya pengajaran tapi pendidikan, jadi teori saja tidak cukup, harus ada aplikasi dari apa yang disampaikan di bangku sekolah. Di luar ruang sekolah itulah pondok secara tersirat mengaplikasikan itu semua. Seperti usaha mewujudkan kesabaran dan kesungguhan santri dalam belajar, dalam mentaati guru, dalam mentaati peraturan dan lain sebagainya.
Merujuk pada Taksonomi Bloom (1956) yang dibuat oleh Benjamin S. Bloom untuk tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi tiga teritori, yaitu; Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Begitupula Ki Hajar Dewantoro, memeliki istilah lainnya, yaitu; cipta, rasa dan karsa, selain itu dekenal pula istilah; penalaran,penghayatan dan pengamalan (Wikipedia).
Dari ketiga istilah tujuan pendidikan di atas, PPWS sebagai lembaga pendidikan tentunya tidak meninggalkan ketiga ranah tersebut, hal itu tampak dari Panca Jiwa Pondok (Jiwa keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari, Ukhuwah Islamiyah dan Kebebasan) yang setiap khutbatul iftitah acap kali disampaikan. Kelima karakter inialah yang berusaha dibangun oleh PPWS agar melekat dalam kehidupan seorang santri.
Suka tidak suka, santri yang telah mengenyam pendidikan PPWS pasti merasakan perubahan sikap yang dibangun, karena hal itu menjadi konsekwensi logis santri sebagai bagian dari ‘masyarakat’ Pesantren. Dalam artian, proses pengaruh-mempengaruhi berlaku di sana, Kyai mempengaruhi asatidz, asatidz mempengaruhi santri, dan sebenarnya, kesemuanya saling mempengaruhi. Kemudian, agar proses saling mempengaruhi ini berjalan searah dengan cita-cita pesantren, dibangunlah sistem yang mapan sebagai usaha menertibkan proses perubahan.
Sebagai misal, dalam kepengurusan Organsasi Santri Walisongo (OSWAS) di PPWS, terdapat kiriteria pengurus yang bunyinya; berakhlakul karimah. Seorang pengurus, mau tidak mau, akan menjadi pusat perhatian bagi anggota-anggotanya, pertanyaannya, kenapa harus ada kriteria tersebut? Tidak lain adalah agar pengurus tersebut menjadi tauladan yang baik bagi santri dan memberikan pengaruh positif. Hal ini senada dengan pelajaran Mthola’ah di bangku sekolah yang sering kali menceritakan akhlak-akhlak terpuji. Maka, tak heran bila salah satu pendiri PPWS, almarhum K.H. Ibrahim Thoyyib berpesan; Sebesar ketaatanmu, sebesar itu pula keinsyafanmu
Tak ayal lagi, betapa banyak hadiah dari PPWS yang dipersembahkan kepada setiap santrinya. Empat atau enam tahun berinteraksi adalah waktu yang sangat singkat untuk membentuk karakter yang ber-panca jiwa. Jadi, sudah menjadi keharusan Alumni untuk meneruskan perealisasian panca jiwa tersebut. Selamat ulang tahun PPWS.
KBAPWS, What’s That?
We often find in the social networking site Facebook an application that reminds its users of the birthdays of other users. Some users may consider this as trivial, while others may not. For those who think that such application is unimportant, they probably do not really comprehend the nature of social interaction which requires communication among human being. That’s certainly different with those who believe in the importance of communication: silaturrahim.
Regardless of whether or not the aforesaid Facebook application is important, let us discuss about the anniversary of Pondok Pesantren Wali Songo (PPWS) on the last 4th of April, especially for those who are commemorating the anniversary in Egypt.
PPWS has been contributing to the dynamics of Islamic education in Indonesia for 49 years. Of course as an institution of learning, many students have graduated from the boarding school over its 49 years of existence. Among which are united under the banner of Keluarga Besar Alumni Pondok Pesantren Walisongo, KBAPWS in short, established in the Arab Republic of Egypt, and the forum currently has around 50 members.
There are interesting things that the author wants to convey about KBAPWS in Egypt. Formerly, alumni of PPWS who lived in Egypt had established what was named Himpunan Keluarga Pondok Pesantren Wali Songo (HKPW). However, due to socio-historical reasons, the institution of PPWS changed the name of HKPW to Himpunan Alumni dan Keluarga Pondok Pesantren Wali Songo (HAKPW), and the alumni who were in Egypt had consequently changed the name from HKPW Egypt into HAKPW Egypt. However, the new name (HAKPW) did not exist very long since PPWS once again changed the forum’s name into KBAPWS. And again, HAKPW Egypt was accordingly changed into KBAPWS Egypt.
We can see that the alumni in PPWS in Egypt are very much obedient to the decisions made by the stakeholders in PPWS, as can be observed from the evolution of the name of the alumni’s forum from HKPW up to KBAPWS. Whereas in a number of areas in Indonesia, some other alumni had objected to the forum’s names oferred by PPWS.
Unfortunately, PPWS seems to have little interest, or to put it mildly, is not aware of the potentials of its alumni in Egypt, compared to those who are residing in Indonesia. Why potential? This is because, for now, KBAPWS Egypt only possesses potentials, and not yet material. This differs from the alumni in Indonesia who had delved into the material world and can offer more than just mere potential. However, just be fair, the author assumes that PPWS is applying what we call scale of priority to empower its alumni. Hopefully this is not because PPWS is only interested in the alumni who can provide material benefits to the institution.
For example, in the case of the change of the forum’s name to HAKPW, or even to KBAPWS, there were no formal letter of decision sent to PPWS alumni in Egypt to socialize the decision. And in the national alumni conference, there was no invitation letters conveyed to the alumni in Egypt. Is it possible that PPWS has forgotten that it has a representative in Egypt? Interesting, isn’t it?
Here is a case study to ponder upon: the Government of the Philippines has established a communication mechanism with its labors who are working all around the world. In that mechanism, every labor receives a birthday greeting card from the President of the Philippines in his/her birthday. It may seem trivial, and most probably the President herself is not writing the birthday greeting, however small things like that has given the impression that the Government of the Philippines is really concerned about its citizens who work in a foreign country. And in Egypt, Philippino labors (especially those working in the domestic sector) has ranked top in terms of salaries received compared to other nationalities.
That shows the importance of building communication. Even though the act of building communication itself is as simple as sending a birthday greeting card, it is very influential on a country's positive image.
We can imagine what would happen if PPWS sends birthday greetings to its representatives abroad. It may encourage the creation of the atmosphere of harmony. That way, the communication will not only be established by PPWS representatives abroad who continuously provide information to PPWS, but also by the PPWS itself as an institution that provides feedback to its representatives. Here, two-way communication will occur.
Finally, let us hope that the silaturrahim wil always be present, not only among fellow alumni in Egypt, but also between the alumni forum (i.e. KBAPWS) and PPWS that is established upon the foundation of interactive (two-way) communitation. The starting point for the silaturrahim is through the continuous effort of PPWS alumni to develop their potentials which can bring about positive contribution to the society as a whole. Happy birthday PPWS.
Friday, March 19, 2010
Profile of PII (Indonesia Moslem Students’ Association)

SECRETARIAT
The address of Central Board of Indonesian Moslem Students Association is on
Jl. Menteng Raya 58 Jakarta, Indonesia 10340
Phone/Fax. 62-21-3153572
E-mail: pbpiiku@yahoo.com
Website: http://pelajar-islam.or.id
The address of Representative Board Of Indonesian Muslims Students Association is on Building 63 A Flat 6 Gate Two Swessry A 10th Distric, Nasr City, Cairo, Egypt
Website : http://www.pii-mesir.org
Phone (0020-2) 24708427
Email : pii_cairo@yahoo.com
Website: www.pii_mesir.org
BRIEF HISTORY OF PII
Indonesian Moslem Students Association (PII) was established in the struggle city of Yogyakarta on May 4, 1947. The founding fathers were young intellectuals on the time, namely Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, and Ibrahim Zarkasyi.
One factor motivated the establishment of PII was the dualism of education system for Moslems in Indonesia as a heritage from Netherlands colonizer, pesantren (Islamic Boarding School) and ordinary school that each of them has different education system. Pesantren has eschatological orientation mean while ordinary school has worldly orientation. Consequently, Moslem students divided into two groups and against each other. Students from pesantren (santri) claimed ordinary school as unbelief education system given by Netherlands colonizer and judged the students as unbelief students. On another position, students from ordinary schools claimed the pesantren as traditional and conservative, the santri were named conservative santri.
At the moment, there was a students organization, Ikatan Pelajar Indonesia / Indonesian Students Association (IPI). However, the organization could not accommodate santri's aspiration. Reflecting the reality, when Yoesdhi Ghozali was being i'tikaf (keep silent and pray in mosque) at a mosque in Yogyakarta on February 25, 1947 got inspiration to establish an organization that can accommodate Moslem aspiration (both from pesantren and ordinary school). The idea was shared in SMP N 2 (State Secondary School) Secodiningrat, Yogyakarta. His friends attended the meeting were Anton Timur Djaelani, Amien Syahri, and Ibrahim Zarkasyi and all audience agreed to established an organization form Moslem students.
The agreement, then presented on the Congress of Indonesian Moslem Youth Movement (Gerakan Pemuda Islam Indonesia/GPII) on March 30 - April 1, 1947. Most of the audience agreed the idea, then the congress decreed to unite Students Division of GPII into Indonesian Moslem Students Association (PII). The participants of congress also were demanded to ease the establishment of PII around Indonesia.
As a follow up of the congress decree, a meeting was conducted at GPII office on Jalan Margomulyo 8 Yogyakarta on May 4, 1947. The meeting was attended by Yoesdi Ghozali, Anton Timur Djaelani, and Amien Syahri represented Students Division of GPII, Ibrahim Zarkasyi and Yahya Ubeid represented Surakarta Moslem Students Union (PPIS), Multazam and Shawabi represented Course Union of Islamic Secondary Schools (PERKISEM) Surakarta, and Dida Gursida and Supono NA represented Indonesian Moslem Students Organization of Yogyakarta. The meeting, led by Yoesdi Ghozali decreed to established an organization named Pelajar Islam Indonesia / Indonesian Moslem Students Association (PII) at 10.00 A.M. on May 4, 1947.
In order to commemorate the moment of establishment of PII, every May 4 was celebrated as The Awakening Day of PII. It is supposed to be awakening moment from the accumulated ideas.
OBJECTIVE, MAIN TASKS, FUNCTIONS AND ACTIVITIES
The objective of PII is "the perfection of Education and Culture in accordance with Islam for all Indonesian and human being".
The main tasks of PII are conducting training, taklim (Islamic courses), and organizational courses form students in order to create Moslem, Intelligent, and Leader nation cadres.
The functions of PII are as a place to Moslem character building, success study assistance, training tools, and struggle tools for Moslem Students.
To achieve the objective, PII conducts certain activities, namely:
a. Educate members to be pious to the almighty God (Allah swt)
b. Grow intelligence, creativity, skill, interest, and talent of the members.
c. Educate the members to be independent; able to stand on his own feet without depend on others.
d. Educate mental and grow appreciation on science and culture in line with Islam for the members.
e. Educate the members to be able to manage global information and protect themselves from negative effects of the global information and culture.
f. Assist the members develop the interest and solve students problem.
g. Organize social activities for Islam and Moslem and non-Moslem.
h. Develop zeal, ability the members to master, utilize science and technology for human welfare.
i. Develop the member’s ability to learn, comprehend, appreciate, and perform Islamic spirit in the real life.
j. Create leader possessing Islamic way of life, wide global view, and Moslem personality in any field of life.
MEMBERSHIP
There are four kinds of membership in PII, namely:
a. Anggota Tunas, (Bud Member); students study at elementary schools
b. Anggota Muda, (Green Member); students study at secondary schools
c. Anggota Biasa, (Ordinary Member); students study at senior high schools and university/college
d. Anggota Luar Biasa (Extra Ordinary Member); foreigners who study in Indonesia.
e. Anggota Kehormatan (Honorary Member); meritorious persons for PII
BOARDS
Organizational board in PII consist of four level namely:
1. Pengurus Komisariat (Sub District Board) based in sub districts, schools, or other educational institution. Each Sub district Board at least has 25 members.
2. Pengurus Daerah (District Board); based in regency or pesantren and university/college. If it is possible, one regency consists of two or more district boards. Each district board has 100 members.
3. Pengurus Wilayah (Regional Board); based in province. However it is possible to establish two regional boards in one province. The territorial border is not always same as government administrative territorial. A good example is Regional Board of Great Yogyakarta that covers Yogyakarta Province, Ex-Residency of Kedu and Ex-Residency of Banyumas (both in Central Java).
4. Central Board (Pengurus Besar); a Congress mandate holder and top institution, located in Jakarta.
At the moment, PII consists of 28 regional boards and more than 200 district boards spread out in Indonesia. Besides, PII has also representative board in Malaysia, Egypt, Pakistan, Syria, Turkey, Arab, Singapore, Netherland, America and Australia.
As attempt to accommodate students female aspiration and to do specific task, PII forms two autonomous body namely Brigade PII and Korps PII Wati.
Brigade PII was formed on November 6, 1947 (in physical revolution era) to take a part in keeping Indonesia independence and unity. The establishment of Brigade PII was based on the background of the situation at that moment in which PII took a part against Netherlands Military Aggression I, July 27, 1947 soon after First Congress of PII. At present, Brigade PII function as strategic body for PII to provide inputs to support the realization of the programs.
Korps PII Wati was formed on July 31, 1964, in the 10th Congress of PII in Malang, East Java. The establishment was based on the female cadres crisis in PII, therefore Korps PII Wati should conduct acceleration in educating the female cadres that in general have shorter time to active in PII than male students.
PROGRAMS PII MESIR
PII is an education, culture and Islamic Propagation movement. Consequently PII has always concern on problems related to the three fields. It concern is different time to time, period to period. External situations influence PII's responses toward the fields.
Some Policy as program operational basis in the period of 2008-2010 is:
1. Forming PII's cadre based on the Muslim cadres profile, scholars, leaders in character and capacity in accordance with the identity of PII (Movement Philosophy) by implementing the concept of ta'dib comprehensively.
2. Building a system of organization with an established institutional structures and mechanisms to consistently perform a healthy organizational culture.
3. Building internal solidity of organization
4. Play an active-positive role contribute to the problems of ummah, especially student's issues both national and international to always build the critical tradition to proactively respond to all kind of civilization on the same network. Advancing the partnerships extensively with the institutions of national and international mission in field of education, culture and dakwah.
5. Establishing an image over all Indonesian organizations in Egypt
The programs of PII are covered in certain activities, namely:
a. Coaching and courses for students; leadership training (basic, intermediate, and advanced), Training for Trainers, Students Work Camp, Series of Courses (Management Courses, Female Courses, Polling, Public Relations, etc). Besides that, PII has also taklim (regular Islamic studies) to educate members and students to have wide Islam view and practice Islamic spirit in the real life. Training, Courses, and Taklim are conducted regularly, massively, and open. Training and Courses are conducted on vacation time of study, mean while taklim is conducted based on the agreement among the members and performed once a week.
b. PII is also requested by some schools to be facilitators for training they run. All trainings, courses, and taklim in PII are performed by using participatory and dynamic groups.
c. Critical Discourse Analysis; the aim is to shape cadres who can meet the challenges of Science, technology and Social Politics
d. Foreign-language Weekly Discussion (Arabic and English); the aim is to Develope skills in Arabic and English Languages
e. English Debate Contest; a debate program among students in English. The aim is to improve the Student's ability in foreign language
Besides described above, the policy of PII is also described in the institutional board in some divisions, namely Cadre, Nurturing and Development of Organization, Communication, Propagation and Students Empowerment, and Intellectual Development. These divisions perform specific approach (based on the character and orientation of the divisions) organize any activities.
Representative Board Of Indonesian Muslims Students Association
in the period of 2008-2010
Chairman : Andy Hariyono
Deputy Chairman for Cadre : Mu’tashim El-Mandiri, Lc
Deputy Chairman for Organization Nurturing and Development : Roisudin
Deputy Chairman for Communication : Heru Santoso
Deputy Chairman for PII-Wati : Hamidah Citra Apriliya
Secretary General : Agus Solehudin
Vice I Secretary General : Hidayatun Nisa
General Treasurer : Adi Abdillah Muslim
Vice I Treasurer : Indra Ardian Univa
Departments
Departement Training : Solihin Ma’ruf
Departement Courses : Ahmad Muhammad
Departement Ta’lim : Zamzami Saleh
Department of Research and Library : Siti Majidah, Lc
Rahmadin
Department of Media and Information : Heru Purnama Hasido
Hanifah Jamil
Bureau
Bureau of Secretariat : Solihin Ma’ruf
Special Agency
Foreign Language Development Agency : Irfan Prima Putra
Work Experience with Funding
1. 2003-2010 Leadership Training for Indonesian Student in Egypt, from 2003 until now
2. 2003. Stadium General, Communication. In Cooperation With Cimas- ICMI
3. 2004 Quick training for Islamic knowledge (Pesantren Kilat) at Indonesian school in Cairo (SIC)
4. 2007 English Debate Contest for Indonesian student in Egypt
5. 2008 Collecting 1000 signaturs Supporting the Bills on Pornography
6. 2008 Supporting "Juctice For Khojaly" Campaign
7. 2009 English Debate Contest for International students in Egypt. In Cooperation with ICMI orsat Cairo and PPMI
8. 2009 A Social action to support KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi). In cooperation with Pwk. PP. Persis, PCI. NU, Forum Syariah wal Qanun, Rumah Budaya Akar, Komunitas Arus Kampus, Terobosan Bulletin and Informatika Bulletin.
Sunday, January 10, 2010
Wednesday, December 9, 2009
Lomba Debat Berbahasa Inggris

dikbudcairo.org - Sukses melaksanakan "English Debate Contest For International Students" tahun 2007 silam, tahun ini Pelajar Islam Indonesia (PII) bekerjasama dengan PPMI dan ICMI Orsat Cairo mengadakan kegiatan serupa yang bertajuk: “The Better English You have Got The Brighter Future You`ll have.” Acara ini akan berlangsung pada 6, 9 dan 13 November 2009 di Wisma Nusantara dan Pasanggrahan Jawa Barat.
Acara tersebut tidak hanya diikuti utusan organisasi mahasiswa Indonesia saja, namun diikuti juga oleh mahasiswa asing di Mesir lainnya seperti Filipina, Singapura, Bangladesh, India dan utusan dari al-Azhar English Center.
Kontes tersebut diikuti 25 tim dimana setiap tim terdiri dari 2 orang. Semua tim disaring dalam tiga tahap lomba: penyisihan, semifinal dan final. Seluruh tim diberi tema permasalahan yang sama untuk diperdebatkan. Pada tahap penyisihan, tema yang diperdebatkan adalah: “Academic Qualification: How Far is this True” dan tim dalam setiap regu dibagai ke dalam dua kelompok: pro dan kontra.
Adapun kriteria penialain pada tahap penyisihan ini difokuskan pada tiga titik, yaitu: Fluency (kefasihan), Grammer (Tata Bahasa) dan Content (isi).
Solihin Ma`ruf (ketua panitia) mengungkapkan, dengan terselenggaranya kegiatan berskala Internasional tersebut, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa Indonesia dan memperkokoh tali silaturahmi sesama mahasiswa asing di Mesir. Adapun M. Jouheri Irhas peserta utusan FISMABA mengungkapkan, bahwa kegiatan seperti ini seharusnya tidak hanya dilaksanakan dalam agenda tahunan saja, namun kalau bisa setiap minggu dalam skala setiap organisasi kecil mahasiswa. Ia mengaku kemampuan berbahasa Inggrisnya kembali terasah setelah mengikuti kegiatan ini, padahal kemampuan berbahasa Inggrisnya sempat menurun selama dirinya menjadi mahasiswa di negeri berbahasa Arab (Mesir).
Sumber
Tuesday, December 8, 2009
05 Desember 2005
Friday, November 13, 2009
Mahasiswa RI di Mesir Dukung KPK

Kairo - Koalisi Gerakan Cicak Mahasiswa Indonesia Mesir (Masisir) bertekad mendukung serta mempertahankan KPK demi kelanjutan perang terhadap korupsi, serta mengecam semua pihak yang ingin melemahkan dan mematikan KPK.
Demikian deklarasi yang dibacakan dengan lantang oleh Koordinator Aksi Cicak Masisir, Rashid Satari, dalam acara Deklarasi dan Aksi Cinta Indonesia Cinta KPK Masisir di Wisma ‘Habibie’ Nusantara, Kairo, seperti disampaikan melalui siaran pers yang diterima detikcom petang ini atau Kamis (12/11/2009) WIB.
Koalisi ini terdiri dari Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Mesir (Pwk. PP Persis), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir (PCI NU), Perwakilan Pelajar Islam Indonesia Mesir (Pwk. PII), Forum Syariah wal Qanun (Forum Studi Syariah dan Hukum), Rumah Budaya Akar (Forum Pegiat Kebudayaan), Komunitas Arus Kampus, Buletin Terobosan dan Buletin Informatika.
Dukungan diberikan kepada KPK karena selama ini terbukti bahwa kinerja KPK sangat ampuh dalam upaya memberantas korupsi di Indonesia. Seharusnya RI 1 bersikap tegas dan dapat merespons positif aspirasi rakyat yang mendukung penguatan lembaga KPK.
Diharapkan dukungan mahasiswa RI di luar negeri dalam perang melawan korupsi akan semakin bertambah, menyusul PPI Australia dan PPI Prancis yang sudah menyatakan dukungannya.
"Pada hari-hari ke depan kita akan melihat Cicak Raksasa melawan para Buaya," ujar Ketua Penyelenggara Kadarisman.
Acara dimeriahkan dengan orasi-puitis Tabrani Basha, yang antara lain menyoroti keterpurukan moral bangsa karena korupsi yang kronis, korupsi di deplu diplomasi jadi memble, depag dikorupsi dana haji raib, depkes dikorupsi pasien kejang-kejang.
Sebelumnya acara deklarasi itu didahului dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu Gugur Bunga sebagai tanda kecintaan terhadap NKRI.
(es/es)
Sumber
Mahasiswa Indonesia di Mesir Dukung KPK

Sabtu, 7 November 2009 | 17:54 WIB
KAIRO, KOMPAS.com - Sembilan organisasi di lingkungan Masisir (Mahasiswa Indonesia Mesir) Jumat (6/11) malam di Kairo mengeluarkan Pernyataan Sikap mendukung KPK dan upaya penegakan supremasi hukum di Indonesia. Sembilan organisasi tersebut menamakan diri Koalisi CICAK-Masisir.
Koalisi ini terdiri dari Perwakilan Pimpinan Pusat Persatuan Islam Mesir (Pwk. PP. Persis), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir (PCI. NU), Perwakilan Pelajar Islam Indonesia Mesir (Pwk. PII), Forum Syariah wal Qanun (Forum Studi Syariah dan Hukum), Rumah Budaya Akar (Forum Pegiat Kebudayaan), Komunitas Arus Kampus, Buletin Terobosan dan Buletin Informatika.
Dalam pertemuan tersebut, koalisi ini mengeluarkan tujuh poin pernyataan sikap. Pertama, mendukung KPK dalam upaya pemberantasan tindak korupsi di Indonesia. Kedua, mendesak Polri mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) atas kasus Bibit-Chandra dan mencabut status tersangka atas keduanya. Ketiga, mendesak Mabes Polri dan Kejaksaan Agung segera menonaktifkan oknum pejabat terkait yang terlibat dalam upaya kriminalisasi KPK serta menindak Anggodo Widjojo dan semua nama-nama yang terlibat.
Keempat, meminta ketegasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan wewenang dan independensi sepenuhnya kepada Tim Pencari Fakta (TPF), serta mendesak Presiden membenahi instansi Polri dan Kejaksaan Agung sebagai lembaga penegak supremasi hukum.
Kelima, mendukung Tim Pencari Fakta (TPF) menguak kebenaran secara independen atas sengketa KPK, Polri, dan Kejaksaan Agung. Keenam, mendesak instansi penegak hukum (KPK, Polri, Kejaksaan Agung), menuntaskan kasus Bank Century. Ketujuh, mendukung seluruh komponen aparat hukum kembali bersinergi dan tidak pandang bulu dalam pemberantasan korupsi di Indonesia.
Sumber
Friday, September 18, 2009
Dan M Top pun Makin NgeTop
Kondisi “Hidden War” atau perang tersembunyi sepeerti inilah yang lebih meresahkan masyarakat. Masih belum jelas, motif dari para terorisme itu. Hanya saja, cara berfikir yang “lurus” menurut mereka, sangatlah bertolak belakang dengan ajaran Islam yang selalu menenangkan masyarakat. Bukan meresahkan.
Sunday, July 12, 2009
Ayat Mutasyabihat
(Serangkai cara dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat)Oleh: Andy Hariyono
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah Allah (Al-Qasas :88), Tangan Allah di atas tangan mereka (Al-Fath : 10), Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami (At-Thur : 48), (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas Arasy. (Thâha : 05)
Terdapat beberpa cara dikalangan ulama Islam dalam memahami terjemahan redaksional ayat-ayat al-Quran seperti diatas. Perlu diketahui sebelumnya, bahwa secara sederhana ayat al-Quran terbagi menjadi dua macam; pertama ayat Muhkamat dan kedua adalah ayat Mutasyabihat, "Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat".(Ali-Imran :7)
Surat Ali-Imran di atas memberikan sinyal bahwa didalam al-Quran terdapat ayat Muhkamat yang berbicara mengenai hal-hal yang pasti, sehingga ayat muhkamat ini jauh dari perdebatan karena kejelasnya dan mudah difahami oleh pembaca. Sebagai cotoh, ayat yang membicarakan Tauhid, kenabian Muhammad Saw, kewajiban membayar zakat, puasa, haji, haramnya riba, berzina, membunuh, mencuri dan lain sebagainya.
Adapun jenis ayat yang kedua adalah Mutasyabihat (samar-samar atau interpretable)
yang membutuhkan intelektual yang cerdas dan pemikiran yang matang serta ijtihad yang mendalam guna memahami ayat tersebut, itu artinya tidak semua orang memahami ayat Al-Quran dengan mudah, ada ayat-ayat tertentu yang membutuhkan otoritas-otoritas tertentu pula dalam memahami redaksional al-Quran, seperti ayat mutasyabihat yang hanya dapat dipahami oleh -dalam istilah al-Quran- "ar' râsikhuna fi'l ilmi" atau orang-orang yang berakal.
Prof Dr. Syaid Ahmah Musayyar menuliskan dalam bukunya fatawa al-aqidah Islamiyah bahwasannya Imam Qurthubi dalam Tafsirnya menukil pernyataan salah seroang gurunya yang bernama Abi Abbas Ahmad bin Umar sebagai berikut, "Penamaan mereka sebagai "rasikhin" menunjukkan bahwasannya mereka mengetahui secara menyeluruh tentang ayat-ayat Muhkam dan mereka benar-benar memahami bahasa arab".
Dari sana, maka jelaslah keempat ayat diawal tulisan ini termasuk ayat-ayat mutasyabihat, dimana hanya mereka yang memiliki kapasitas tertentu saja yang dapat menjelaskan isi dari ayat tersebut. Masih Prof. Dr. Sayid Ahmad Musayyar dalam bukunya yang berjudulu Al-Ilahiyat fi'l Aqidah Al-Islamiyah menuliskan empat cara pandang dalam memahami ayat-ayat Mutasyabihat di kalangan ulama islam; 1. At'Tafwidh, 2.At'Tasybih, 3.At' Ta'wil, 4. Al-itsbat bi'dlawabithihi.
At'Tafwidh
Tafwidh atau dalam bahasa lainnya Menyerahkan segalanya kepada Allah Swt, dalam hal ini, mayoritas ulama klasik (salaf) –generasi sebelum abad kelima hijraiyah, ada juga yang berpendapat mereka adalah tiga generasi awal; sahabat, tabi'in dan at'ba'u tabi''in - lebih condong menggunakan cara pandang tersebut. Dengan demikian mereka (ulama salaf) "lebih selamat" menurut Syihristani, karena mereka menyerahkan makna mutasyabih kepada Allah Swt. Sebagai contoh, surat Thaha ayat 5 yang berbicara mengenai persemayaman Allah swt diatas arsy.
Dari sini, para ulama klasik seperti Sufyat at'Tsauri, Auza'i, Al-Laits bin Sa'ad, Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Mubarak dan Imam Malik memahami ayat tersebut sebagaimana adanya, artinya Allah Swt bersemayam di atas Arsy, mengenai persemayaman Allah tidak dapat diketahui, melainkan hanya Allah Swt yang mengetahuinya. Hal ini senada dengan catatan Ibnu Khaldun bahwasannya madzhab ulama klasik dalam memahami ayat muatsaybih ialah; menyerahkan segalanya kepada Allah Swt, dan tidak berkomentar mengenai maksud dari ayat tersebut. Biasanya kelompok ini selalu mengatakan prihal ayat mutasyabihat dengan kalimat “hanya Allah yang tahu maksudnya”.
At'Tasybih
Tasybih secara bahasa artinya penyerupaan atau antropomorfisme, maksudanya adalah menyerupakan Allah Swt sebagaimana ciptaan-Nya. Mereka yang memiliki paradigma tasybih ini hanya bersandar pada teks-teks ayat yang termaktub dan menafsirkannya secara literal saja, alasan mereka karena Al-Quran turun dengan bahasa arab yang jelas (bilisânin arabiiyin mubîn). Jadi, cukuplah dengan melihat makna literal ayat dalam memahami ayat muatsyabih.
Sebutlah misalnya ke-empat ayat di awal tulisan ini, para ahli Tasybih berpandangan bahwa Tangan Allah seperti tangan manusia, begitupun Mata, wajah dan bersemeyamnya Allah swt sebagaimana manusia bersemayam.
At'Ta'wil
Pemberian pengertian atas fakta-fakta tekstual dari sumber-suber suci (Al-Quran dan Sunah) sedemikian rupa, sehingga yang diperlihatkan bukanlah makna yang sebenarnya (Hakikat) melainkan makna majazi. cara pandang yang ketiga inlah yang sering disebut dengan metode ta'wil atau Interpretasi metaforis. Ada sekelompok ulama yang berpandangan bahwa metode tasybih dalam memahami ayat mutasyabih sangatlah beresiko buruk bahkan bisa terjerumus dalam kekafiran, yakni penyerupan khalik dengan makhluk.
Maka, para ahli ta'wil beranggapan bahwa mereka (ahli tasybih) belum memahami bahasa arab dengan benar, karena dalam ilmu bahasa arab ada makna yang hakikat dan makna majazi. Jadi, para ulama ta'wil menafsirkan ayat-ayat mutasyabihat dengan menggunakan makna majazi bukan makna hakikat, berbeda dengan ahli tasybih yang hanya memahami secara tekstual saja sebagaimana keterangan sebelumnya. Sebagai contoh, tangan Allah, para ahli ta'wil mengartikanya sebagai kekuasaan Allah, Wajah Allah sebagai Dzat Allah, Penglihatan/Mata Allah sebagai Pengayoman Allah Swt dan lain sebagainya.
AL-itsbat bi'd Dlawabith
Ada sekelompok dari ulama klasik dan kontemporer yang tidak sependapat dengan ketiga metode (Tafwidl, Tasybih dan Ta'wil) di atas, melainkan menetapkan apa yang telah termaktub dalam Al-Quran (Al-itsbat Bi'd Dlawabith) di antaranya adalah Imam Abu Hanifah, menurutnya dalam kitab Al-Fiqih Al-akbar mengatakan bahwasannya Allah mempunyai tangan dan wajah dan jiwa, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran dan tidak tergambarkan dalam benak ciptaan-ciptanNya (Manusia). Maka dari itu tidak boleh kita berpendapat bahwa tangan Allah adalah kekuasaan ataupun nikmatnya, akan tetapi TanganNya tidak dapat tergambarkan sedikitpun baik bentuk maupun sifatNya.
Gambaran sederhana dari ketiga metode di atas adalah, sebagai berikut, misalnya redaksional Ayat Al-Qura yang berbunyi; “Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka”
Ahli Tafwidl mengaatakan, Hanya Allah Swt yang tahu maksudnya, kita tidak boleh menetapkan Allah mempunyai tangan dan tidak boleh menafikannya, juga janganlah berpandangan bahwa ayat tersebut bermakna majazi ataupun hakiki.
Ahli Tasybih berpandangan bahwa Tangan Allah sama seperti Tangan Manusia, karean secara bahasa Tangan adalah tangan, dan dalam gambaran akal tangan manusia lebih rasional untuk digambarkan menjadi tangan Allah.
Ahli Ta'wil berpandangan bahwa tangan Allah di sana adalah kalimat Majazi yang artinya adalah kekuasaan Allah, Ahli Ta'wil ini tidak mengartikan ayat tersebut secara leterlek akan tetapi ada kalimat-kalimat dalam Bahasa Arab yang memiliki makna majaz.
Ahli It'sbat berpandangan bahwa Allah memiliki tangan sebagaimana ditetapkan di dalam Al-Quran dan tidak mengatakan; hanya Allah yang tahu maksudnya, tangan Allah seperti tangan manusia, atau tangan Allah adalah kekuasaan Allah.
Kesimpulan
Dari ke-empat cara pandang di atas, hanya tiga metode saja yang dapat kita jadikan sandaran untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat, yakni; Tafwidl, Ta'wil dan Itsbat. Sedangkan cara pandang tasybih sangat tidak relevan bila dijadikan pegangan, karena metode itu sama saja dengan penyerupaan Khalik dengan makhluk.
Mungkin para ahli tasybih lupa bahwa Allah Swt menetapkan diriNya sebagai "Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia" (As-Syurâ : 11) "dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia". (Al-Ikhlas : 4).
Adapun ketiga carapandang lainnya (Tafwidl, Ta'wil dan Itsbat) bisa dijadikan sandaran untuk memahami ayat-ayat mutasyabihat, dengan Tafwidl para pembaca bisa lebih "selamat" karena tidak menafsirkan apapun, hanya menyandarkan makna ayat kepada Allah Swt. Kemudian dengan Ta'wil berarti telah mensucikan Allah Swt dari pengaruh-pengaruh Tasybih, dan terakhir Itsbat merupakan carapandang yang hampir sama dengan Ta'wil, karena, ketika ahli itsbat menetapkan bahwa Allah mempunyai tangan, sedangkan dalam ilmu bahasa hakikat tangan pasti ada struktur tersendiri, baik tulang, jari, daging kulit dan lain sebagainya, maka tentunya bukan tangan seperti itu yang mereka maksudkan. Singkatnya, mereka juga bermaksud memaknakan tangan di sana dengan makna majazi. Wallahu a'lam Bi'shawab
Referensi
• Prof.Dr. Sayid Ahmad Al- Musayyar, Fatawa Al-Aqidah Al-Islamiyah, Maktabah Al-Iman Kairo, Cet. I Thn. 2007
• Prof.Dr Sayid Ahmad Al-Musayyar, Al-Ilahiyat Fi'l Aqidah Al-Islamiyah, Maktabah Al-Iman Kairo Cet. III Thn.2006
• Imam Bajury Tuhfatul Murîd ‘alâ Jauharatu't Tauhid dengan Ta'liq dari Tim Akidah dan Filsafat Universitas Al-Azhar, Thn.2006-2007
• http://quran.al-islam.com
• http://media.isnet.org/islam/Paramadina/Konteks/Takwil1.html
Saturday, June 27, 2009
Mari Peduli Keadilan Bagi Sipil Khojaly - Azerbaijan

Thursday, June 25, 2009
25 Juni 2009
Kemarin, aku pergi ke KBRI untuk menguruskan visa on arrivel/via travel untuk Muhammad Hamzah Subair, Mantan Kabid Kaderisasi PB-PII 2008-2010. Alhamdulillah, Bapak Abdullah (Konsuler KBRI) sudi membantu PII untuk membuatkan visa tersebut, Jazahullahu khairan katsira.
Sepulang dari kedutaan, aku menggunakan transportasi kereta bawah tanah dari Sa’ad Zaghlul ke Husni Mubarak di daerah Ramses. Di Ramses ini terdapat sesuatu yang baru kulihat dengan mata kepalaku sendiri, seorang wanita paruh baya mengendarai angkot arah ramses ke Hay Sabi‘ sembari berteriak mencari penumpang ke arah tersebut.
Pandanganku terpaku sejenak, aku pun masuk ke dalam tramco (angkot/angdes bisanya disebut tramco di Masisir) tersebut, setelah aku perhatikan sekitarku, ternyata banyak dari masyarakat Mesir sendiri heran dengan pengendali perempuan ini, termasuk polisi lalu lintas yang sempat menanyakan hal tersebut kepada dirinya. Memang setiap orang mempunyai lahan kerjanya masing-masing, namun terkadang realita memaksa untuk “nimbrung” di lahan tetangga.
Rakaat pertama shalat subuh hari ini dibuka sang Imam dengan ayat Al-baqarah mengenai dua malaikat yang diturunkan Allah dengan sebutan Harut dan Marut, dan rakaat kedua ditutup dengan ayat, “Bal Huwa Quranun Majid, fî lauhi’m Mahfudz”.
Tampak sekilas tidak ada hubungan diantara kedua ayat tersebut, namun aku menyadari ketetapan Allah menurunkan Harut dan Marut jauh-jauh hari telah tercatat dalam “papan ketetapan segala sesuat” yang sering kita sebut “lauh mahfudz”. Tidak hanya Harut dan Marut, nama Andy Hariyono dengan CathaR ini pun tercatat dengan rapi di papan tersebut. Dan ketika anda membaca CatHar ini, Maka itu pun tertulis indah di sana. Rabbi habli hukman wa alhiqni bi’s shâlihîn, wa’j ‘al li lisâna shidqin fi’l âkhirîn
Tuesday, May 12, 2009
Sejarah PII Mesir
Periode 1996-1998.
Kehadiran rakanda Hakam Naja (mantan Ketua Umum Pengurus Besar PII periode 1995-1998) ke Mesir pada tahun 1996 merupakan embrio ataupun gagasan berdirinya Perwakilan PII Republik Arab Mesir. Kedatangan beliau ke Mesir, selain ziarah kepada keluarganya yang sedang belajar di Mesir, juga lawatan beliau ke beberapa negara sebagai financial Secretary di IIFSO (Islamic Federation of Students Organization). Pada awalnya, lontaran ide dari rakanda Hakam Naja nyaris kandas, karena kurang mendapat dukungan dari masyarakat Indonesia Cairo. Bahkan rapat perdana hay’ah ta’sîsiyah (perhimpunan pendiri) sempat terancam gagal, karena banyak person yang menyatakan abstain dengan ide pendirian perwakilan PII di Mesir. Sikap abstain muncul merupakan akibat dari sikap pro-kontra terhadap rencana pendirian Perwakilan PII, baik dikalangan Keluarga Besar PII, maupun dari kalangan masyarakat Indonesia Cairo.
Mereka yang setuju berdirinya PII, karena memandang visi dan misi PII yang tetap eksis dan istiqâmah di orde baru. Sedangkan yang tidak setuju, mereka beralasan khawatir kehadiran PII akan mengancam dan menyaingi keberadaan organisasi yang lain yang rata-rata aktifis PII duduk pada posisi strategis di berbagai organisasi Cairo dan takut PII akan mempersempit peta gerakan organisasi mahasiswa di Mesir. Juga alasan yang paling mendasar adalah karena PII dalam Anggaran Dasarnya masih menolak asas tunggal Pancasila. Pada waktu itu reformasi belum bergulir dan eksistensi PII masih dipandang sebagai “anak nakal” di mata penguasa karena menantang UU No 8 tahun 1995. Saat itu PB PII sedang melakukan registrasi ke Departemen Dalam Negeri sebagi proses legalisasi kelembagaan PII yang sempat dibekukan oleh pemerintah.
Al-hamdulillâh, berkat rahmat Allah dan kegigihan para hay’ah ta’sîsiyah dan Ketua Umum PB PII, dalam melobi pihak-pihak yang kurang setuju lahirnya Perwakilan PII, maka pada hari 1 Syawwal 1417 H diselenggarakan sebuah pertemuan dan saudara M. Acung Wahyudi terpilih secara aklamasi dan kekeluargaan sebagai Ketua Umum Pengurus Perwakilan periode 1996-1998. Para kader PII berusaha meyakinkan pihak-pihak yang kurang menerima kehadiran Perwakilan PII Mesir. Bahkan, kanda Hakam Naja bersedia datang ke Mesir yang kedua kalinya untuk hal tersebut. Sebagai langkah awal dalam mensosialisasikan Perwakilan PII Republik Arab Mesir, maka pada tanggal 1 November 1997 digelar acara silaturrahmi dan temu kader PII yang bertema: “Pemberdayaan Kader PII menghadapi era globalisasi untuk memenangkan kompetisi antar bangsa” di rumah salah seorang home staff KBRI, juga sebagai Keluarga Besar PII, bapak MHK. Wiharja Atmaja. Selanjutnya tanggal 1 November 1997 inilah Perwakilan PII Republik Arab Mesir secara resmi berdiri.
Pada periode ini, program lebih banyak difokuskan pada konsolidasi internal. Baru setelah turun SK dari PB nomor: PB/sek/02/VI/1419-1998 bahwa Mendagri; Letjend. Pur. Syarwan Hamid telah menyatakan legalitas PII di tanah air yang secara yuridis formil dapat melaksanakan segala aktivitasnya kembali setelah masa kevacuman sejak tahun 1987. Maka Perwakilan PII berusaha mensosialisasikan legitimasi ini sekaligus melaporkannya ke pihak yang terkait, yaitu Duta Besar RI bapak Dr. Nur Hasan Wirayuda dan Atase Pendidikan, Kepala Bidang Penerangan, Kabidpol dan Atase Pertahanan KBRI Mesir. Sejak inilah Perwakilan PII mulai berkiprah secara eksternal di Mesir.
Periode 1998-2000.
Pada tanggal 1 November 1998 diselenggarakan Konferensi I Pengurus Perwakilan PII Republik Arab Mesir, maka Kemimpinan fatrah ta’sîsiyah yang diketuai oleh M. Acung Wahyudi berakhir dan terpilihlah saudara Abdullah Hakam Syah sebagai Ketua Umum Pengurus Perwakilan PII Republik Arab Mesir Periode 1998-2000.
Dengan slogan “Tandang ke gelanggang meski seorang” periode ini mulai menata Perwakilan PII Republik Arab Mesir. Pada tahun pertama pada periode ini, program kerja dan pola pergerakan organisasi lebih ditekankan pada empat kebijakan umum, yaitu: pertama, membangun network ke berbagai pihak yang berkompeten. Baik itu para perwakilan RI di Mesir; para diplomat KBRI, masyarakat Indonesia Mesir, ataupun ke PB PII di Jakarta, dan ke Keluarga Besar PII, kedua: melakukan konsolidasi internal dengan intens merangkul kader-kader PII yang sedang belajar di Mesir, ketiga: meneguhkan citra PII di tengah-tengah masyarakat/mahasiswa Indonesi Mesir, dan keempat: melobi para KB PII dalam menggalang dana organisasi.
Dengan empat kebijakan itu, al-hamdulillâh, keberadaan PII di Mesir mulai diperhitungkan. Apalagi setelah kehadiran rakanda Djayadi Adnan (Mantan Ketua Umum PB PII Periode 1998-2000) Perwakilan PII mendapat kepercayaan untuk membina siswa-siswi Sekolah Indonesia Cairo (SIC).
Follow up dari kebijakan dan hasil tahun pertama, Pengurus Perwakilan PII Mesir periode 1998-2000 menekankan program kerja
pada penguatan basis pelajar di Sekolah Indonesia Cairo (SIC). Diantara kegiatan yang digelar yaitu Pesantren Kilat (baca; Training) Ramadlan disingkat PKR. Kemudian dari acara PKR ini dilanjutkan dengan kegiatan rutin dwi mingguan dalam bentuk Forum Pacu Prestasi Studi (Forpasdi), tadabbur alam, qiyam al-lail, diskusi remaja, dll.
Juga pada periode ini, secara aktif meneguhkan citra PII di Masico dan lembaga keilmuan-keislaman di Mesir. Bahkan, kedatangan rakanda Djayadi diterima baik oleh beberapa institusi dan individu, diantaranya Fahmi Huwaedi (kolomnis senior Mesir), IIIT, Lembaga Riset al-Ahrâm, Grand Syaikh al-Azhar, dll.
Periode 2000-2002.
Periode ini mulai pada tanggal 1 November 2000, tepatnya pada acara Konferensi II Pengurus Perwakilan PII Republik Arab Mesir di sekretariat PII di al-Hayyu al-Sâbi’. Estafeta kepemimpin dilanjutkan oleh ketua terpilih, yaitu Ramat Tahir.
Sebuah harapan, periode ini akan melakukan gebrakan-gebrakan baru, atau minimalnya akan melanjutkan hasil-hasil yang telah dicapai dari dua periode sebelumnya. Hanya saja, sejarah berkata lain. Perwakilan PII Republik Arab Mesir hampir layu sebelum berkembang, atau dengan kata lain, “Hidup segan matipun tak mau”.
“Bila benda bengkok, maka bayangannya pun akan ikut bengkok.” Pepatah ini berlaku pada periode ketiga Perwakilan PII Republik Arab Mesir. Karena Ketua Umumnya kurang konsentrasi menjalankan roda organisasi, maka para pengurus dan anggota PII yang lainpun satu persatu surut dari dinamika pergerakan Perwakilan PII Mesir. Lebih parahnya lagi, setelah kepulangan Ketua Umumnya ke Indonesia tanpa “pamit” dan tidak melimpahkan jabatan dalam bentuk apapun, baik itu di PJS-kan, atau mengundurkan diri, atau didelegasikan. Yang jelas kepulangan Rahmat Tahir ke Indonesia secara organisatoris tidak memberikan mandat apa-apa.
Diperparah lagi, para pengurus teras atasnya; Badan Pengurus Harian (BPH), tidak mengambil alih tugas Ketua Umum. Pengurus Perwakilan PII Republik Mesir Periode 2000-2002 tak ubahnya anak Ayam yang kehilangan induknya.
Akhirnya, aktivitas Perwakilan PII menjadi surut. Program pembinaan siswa-siswi SIC menjadi agak mandeg. Kegiatan yang digelar hanya beberapa kali saja. Jangankan untuk menggelar acara-acara, rapat pengurus saja sangat jarang.
Periode 2002-2008.
Konferensi III Pengurus Perwakilan PII Republik Arab Mesir pada tanggal 14 September 2002 di Wisma Nusantara Cairo, menjadi tonggak kepemimpinan Pengurus Perwakilan PII Republik Arab Mesir periode 2002-2004. Konferensi yang bertema, “Reaktualisasi Tri Komitmen PII Sebagai Tranformator Peradaban Islam”, memberikan amanat kepada Udo Yamin Efendi Majdi untuk memimpin kepengurusan selanjutnya.
Diawali dari periode ini sejarah pergerakan PII Mesir kembali muncul ke permukaan, diantaranya adalah; memperjelas ladang garap Perwakilan PII Mesir yakni, SIC (Sekolah Indonesia Cairo), Mahasiswa Indonesia Kairo dan Umat; yaitu beberapa kader PII yang tersebar juga di beberapa perwakilan organisasi massa (Ormass) Islam antara lain NU (Nahdlatul Ulama), Persis (Persatuan Islam), Muhammadiyyah dan Al-Washiliyah, kemudian terselenggaranya latihan kepemimpinan yang bernama Leadership Traning for Studant (Leadtras) I bagi masisir.
Hingga pada akhirnya Konferensi IV PII Mesir pun diselenggarakan pada tanggal 26 Juli 2004 di tempat yang sama. Saudara Aulia Ulhaq Marzuki sebagai ketua terpilih periode 2004-2006 melanjutkan estafeta kepengurusan sebelumnya, yakni mempertegas kembali ketiga lahan garap PII. Muktamar Nasional (Muknas) XXIV PII di Banjarmasin memberikan kado tersendiri bagi PII Mesir berupa perubahan nama dari Perwakilan (Pwk) menjadi Pengurus Wilayah Istimewa (PWI). Perubahan tersebut sedikit banyak turut memperngaruhi pola kerja PII Mesir waktu itu, diantarannya adalah sistem training yang sebelumnya bernama leadtras dapat difollow up menjadi Leadership Basic Training (LBT) PII. Namun pada Muknas XXV di Samarinda status PWI untuk PII luar negeri kembali menjadi Pwk.
Konferensi Perwakilan V (saat itu bernama Konferensi Wilayah Istimewa) pada tanggal 02 Juli 2006 pun tiba, Saudara Rashid Satari meneruskan kepemimpinan saudara Aulia Ulhak Marzuki untuk periode 2006-2008. Konferensi perwakilan kali ini memberikan berbagai amanah kepada pengurus yang terangkum dalam Master Plan untuk dua periode (empat tahun) hingga 2010. Beberapa diantaranya direkomendsikan kepada kepengurusan saudara Rashid Satari yaitu kaderisasi Pwk PII Mesir untuk menghasilkan kader-kader instruktur yang dapat menjalankan sistem ta’dib par exellence, pembentukan komunitas bahasa asing dan pelaksanaan Advanced Leadership Traning (ALT).
Walaupun ALT belum bisa terlaksana dikarenakan oleh beberapa sebab, kepengurusan periode kali ini akhirnya mencari alternatif lain yakni, pelaksanaan Leadership Intermediate Trainig (LIT) yang pertama kalinya di Mesir, dan sebagai follow up dari trainig sebelumnya, yakni LBT. Disamping itu pembentukan komunitas bahasa asing pun dapat terlaksana dengan terbentuknya Lembaga Bahasa Asing PII Mesir atau lebih dikenal dengan Language Community (LC) PII. Keberadaan LC sendiri menjadi salah satu pintu gerbang bagi Masisir untuk mengenal PII sehingga pada tanggal 09, 11 dan 14 April 2007 terselenggara acara massif “Debete Contest and English Fun Day” yang bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Mesir, Bapak Drs.Slamet Sholeh, M.Ed dan ditujukan bagi Masisir termasuk para Pelajar di SIC, kemudian diskusi bahasa arab dan inggris pada tiap minggunya juga mengadakan kursus bahasa Mandarin. Selain itu PII Mesir periode 2006-2008 pun ikut berpartisipasi aktif bersama PPMI dalam hajatan besar lokakarya (12-13 April 2008) sebagai upaya memetakan permasalah dan solusi atas problem akademis Masisir.
Kehadiran Website PII Mesir baru dapat diakses pada periode kali ini setelah dua tahun sebelumnya lauching di Mesir, dengan situs www.pii-mesir.org disamping adanya milis PII Mesir yang menjadi wadah silaturahim on line kader dan Keluarga Besar (KB) PII baik yang berada di Mesir maupun Indonesia juga di negara-negara lainnya seperti Malaysia, Jepang dan Amerika Serikat.
Konferensi Perwakilan VI PII Mesir pada tanggal 14 Agustus 2008 di Aula Pasangrahan Jawa Barat menjadi akhir masa kepengurusan saudara Rashid Satari, dengan terpilihnya saudara Andy Hariyono sebagai ketua Umum Pwk PII Mesir periode 2008-2010. Sebagai Mendetaris konferensi VI, periode kali ini masih melanjutkan amanah master plan baik yang belum terlaksana dari periode sebelumnya, juga agenda master plan yang telah dirancang dua tahun sebelumnya untuk diselesaikan pada perode kali ini, diantaranya adalah; Kaderisasi pada tahap kwantitas kader dan kaderisasi pada tahap meningkatkan kwalitas kader dari segi keislaman, keilmuan keintelekualan dan skill individu serta mengupayakan terlaksananya Advanced Leadership Traning (ALT) dan Pendidikan Instruktur Dasar (PID) di Mesir.
Monday, May 4, 2009
4 Mei di Mesir; Harba PII Ke-62
Saturday, May 2, 2009
Ribuan Warga Di Jatim Terkena HIV AIDS
Surabaya (SuaraMedia) - Kabar ini disampaikan Saifullah Yusuf saat membuka rapat konsultasi HIV/AIDS di ruang Binaloka, Kantor Gubernur Jatim, di Surabaya.
Karena itu, pihaknya terus mendorong Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Jatim agar masalah HIV/AIDS ini ditangani secara terus-menerus dan menyeluruh.
“KPA harus terus melakukan identifikasi, baik nama maupun alamat pengidap, untuk mendapatkan penanganan intensif, baik secara medis, psikologis, spiritual, maupun kultural,” kata Saifullah Yusuf.
Menurut ia, selama ini ia hanya mendapatkan data pengidap HIV/AIDS dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim yang jumlahnya mencapai 2.737 orang, sebanyak 612 orang di antaranya meninggal dunia.
Dari jumlah tersebut, mayoritas pengidap tersebar di 20 kabupaten/kota di Jatim. “Ada beberapa daerah yang harus diwaspadai, seperti Surabaya, Malang, Kota Pasuruan, dan lain-lain,” ucap Saifullah Yusuf.
Dinkes Jatim memberikan perhatian khusus pada penderita HIV/AIDS yang masih berusia anak-anak. Sebab, seiring dengan peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun ke tahun, kejadian pada anak di bawah umur juga semakin bertambah.
Kasus HIV/AIDS di Jatim yang ditemukan sejak tahun 1989 hingga Maret 2009, terdapat 86 penderita dengan kualifikasi usia di bawah 19 tahun. Banyaknya penderita HIV/AIDS di bawah umur tersebut sekaligus sebagai indikasi bahwa penyakit HIV/AIDS penyebarannya telah merata. Tidak hanya di usia dewasa dan produktif, namun telah merambah pada usia nonproduktif.
Saifullah Yusuf berpendapat, meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS di Jatim bukan berarti bahwa program yang dijalankan selama ini gagal.
“Justru kami melihat petugas dapat mendeteksi penyakit tersebut lebih dini, bahkan penderita bayi dan anak-anak pun diketahui,” katanya.
Hanya saja, dia menganggap, data yang dimiliki pemerintah saat ini adalah data pengidap yang terdeteksi.
“Kami yakin masih banyak penderita lain yang belum terdeteksi. Sebab banyak kasus yang belum terungkap, dan jumlah yang belum terdeteksi itu bisa diibaratkan sebagai fenomena gunung es,” katanya menuturkan.
Dalam kesempatan itu, Saifullah menambahkan, Pemprov Jatim merintis penyusunan Peraturan Daerah (Perda) Antimaksiat. Hal itu dimaksudkan untuk menekan angka kemaksiatan di Jatim. “Itu sesuai dengan cita-cita Pemprov Jatim, yakni Jatim Makmur dan Berakhlak,” katanya.
Perda larangan maksiat ini sebagai tahap awal akan diterapkan di Pulau Madura, setelah jembatan Surabaya-Madura (Suramadu) resmi beroperasi.
“Silakan para investor mendirikan pabrik-pabrik di Madura, tetapi kami melarang mereka membuka rumah-rumah diskotik atau tempat-tempat pelacuran, karena hal ini tidak sesuai dengan budaya masyarakat setempat,” tegas Saifullah Yusuf.(hdt) SuaraMedia.Com
Tuesday, April 28, 2009
Tasawuf Apaan sih??
Tidak sedikit ayat Al-Quran yang mengajak kepada tasawuf, dalam artian Tasawuf juga termasuk Ibadah kepada Allah Swt, sedang ibadah itu ada yang bernilai fardlu dan nafilah, dengan ibadah fardlu semakin mendekatkan hamba kepada Allah Swt, sedang nafilah menambah kecintaan kepadaNya. Sebut misalnya disini untuk ibadah fardlu, Shalat 5 waktu, Puasa Ramdlan, membayar zakat, berbakti kepada kedua orang tua, menjauhi zina dan lain sebagainya, untuk nafilah seperti shalat Tahajjud, mengucapkan salam terhadap sesama, memberikan senyuman, menghormati yang tua menyayangi yang muda dan lain-lain.
Ada yang mengartikan tasawuf itu dengan akhlak, jikalau akhlaknya bertambah baik maka nilai taswauf juga ikut bertambah. Begitu pula dengan zuhud dimasukkan juga dalam pemaknaan tasawuf , zuhud kepada hal-hal yang haram hukumnya jelas wajib akan tetapi dalam hal-hal yang halal menjadi sunah (Baca: sah-sah saja).
Berikut adalah firman-firman Allah yang termaktub dalam Al-Quran mengenai Tasawuf; dalam hal ibadah, “dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)” (Al-Hijir: 99), “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadatlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan” (Al-Muzammil: 8), “Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu". (Al-Hadid : 20).
Dalam suatu riwayat ketika turun firman Allah Swt, “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah untuk shalat di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya)” (Al-Muzammil: 1-2) para sahabat-sahabat nabi Saw bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang lebih setengah malam pada tiap-tiap malam dengan tekun. Hal ini berlangsung selama setahun hingga menyebabkan kaki mereka bengkak-bengkak, maka turunlah ayat berikutnya yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan, “Seungguhnya Tuhanmu mengetahui bawasannya kamu berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang berama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran,. Dia mengetahui bahwa akan ada diantara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Quran dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa aja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Muzammil : 20)
Dan satu lagi hadits riwayat Annas yang menyebutkan bahwa ada 3 orang yang datang ke rumah istri-istri Nabi Saw untuk menanyakan prihal ibadahnya, sembari membanggakan amalan mereka satu persatu. Mereka pun ada yang berkata ; “Saya selalu shalat”, kemudian ada yang berkata; “saya selalu berpuasa setiap hari dengan tidak berbuka”, dan yang terakhir; “saya berlepas diri dari perempuan dan aku tidak akan pernah menikah” Kemudian Rasulullah Saw datang kepada mereka dan berkata “Apakah kalian yang berkata seperti ini dan seperti ini (masudnya pernyataan mereka seperti di atas), maka sabda Rasul Saw; “Demi Allah aku lebih takut dan lebih bertakwa kepada Allah dari pada kalian, akan tetapi aku tetap berpuasa dan berbuka, dan akupun shalat juga tidur, dan aku juga menikah dengan perempuan, barang siapa yang tidak menyukai sunnahku maka ia bukanlah bagian dariku”
Adapun istilah bahwasannya tasawuf berasal dari kata sufi adalah istilah yang muncul belakangan, Abu Hasyim Al-Kufi (W. 150 H) adalah orang yang pertama kali memploklmirkannya. Perkembangan ilmu tasawuf secara garis besar terbagi menjadi dua; pertama mereka yang tetap berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah, kedua mereka yang telah terpengaruh dengan Filsafat hindu, Persia dan Yunani. Setelah tasawuf diminati oleh banyak masyarakat muslim, maka tasawuf menjadi disilplin ilmu tersendiri, dan tidak sedikit pandangan-pandangan mengenai ilmu ini yang bertentangan dengan Al-Quran dan Sunnah.
Dari sana para ahli tasawuf terdahulu sangat menjaga sunah Rasul Saw dalam bertasawuf dan menjauhi perbuatan bid’ah, Imam Junaid bertutur, “Ilmu (tasawuf) kami ini berpegang pada Al-Qur’an dan Sunah, barang siapa yang tidak mengetahui al-Quran dan Sunah makah jangan sekali-kali ia berbicara mengenai ilmu ini”. Dan Sahal bin Abdullah At’Tastari pun berkata, “setiap rasa cinta yang tumbuh tanpa didasari dengan Al-Quran dan Sunah maka cinta itu akan sia-sia saja, dan setiap amalan bid’ah hanya menyiksa diri, dan setiap perbuatan tanpa adanya panutan hanyalah tipu daya bagi diri sendiri”.
Dari berbagai sumber
Saturday, April 25, 2009
3 Jenis Sabar
"Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikat harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (Imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah :177)Perbincangan mengenai topik kesabaran mungkin sudah sering terdengar di sekitar kita, namun dalam realita kehidupan, aplikatif kesabaran sangat jarang kita temukan. Baru-baru ini bangsa Indonesia kembali tertimpa musibah, belum terselesaikan kasus Lapindo yang masih menjadi “PR” Pemerintahan SBY dan JK, disusul dengan situ gintung yang memakan puluhan korban, Ribuan rumah di Tanjung balai Sumut terendam banjir, Gempa di Palu, gempa Manokari Papua Barat dan beberapa bencana lainnya.
Adalah sabar yang berarti menahan diri terhadap sesuatu yang negatif untuk mendapatkan hasil yang positif. Islam menempatkan kesabaran pada posisi yang strategis sehingga output orang-orang yang bersabar mendapat jaminan surga dari Allah Swt. Kembali ke ayat di atas, Allah Swt membagi kesabaran dalam 3 jenis; sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.
Kedua sabar dalam penderitaan, seperti dalam keadaan sakit, terkena musibah dan lain sebagainya. Setiap mereka yang terkena musibah dalam pengertian sabar yang kedua ini hendaknya jangan berputus asa dari rahmat Allah Swt, bukankah Imam Bukhari pernah mengeluarkan hadits Rasul Saw yang maksudnya, setiap muslim yang tertimpa musibah apa pun bentuknya maka, Allah Swt akan menghapuskan dosa-dosa kecil darinya.
Terakhir Sabar dalam keadaan perang, mari menyimak sejenak arti firmah Allah berikut; “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung” (Q.S. Al-Anfal : 45)